tari piring dan tari galombang diiringi musik
Talempongterdiri dari berbagai macam ukuran dan memiliki nada yang berbeda-beda. Talempong biasanya dimainkan untuk mengiringi tarian pertunjukkan atau penyambutan seperti Tari Piring, Tari Pasambahan, Tari Galombang, dan lain sebagainya. Dengan iringan musik dari talempong, suasana yang tercipta semakin terasa khas Minangkabau.
TARIGALOMBANG di Tokopedia ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Cicilan 0% ∙ Kurir Instan. Beli TARI GALOMBANG di Uwan Musik Tradisional. Promo khusus pengguna baru di aplikasi Tokopedia!
Banyakalat musik yang mengiringi tari piring Memang betul jika tari piring ini akan diiringi oleh berbagai macam alat musik seperti halnya rebana, saluang, gong, talempong dan berbagai macam alat musik lainnya. Umumnya lagu takhian sai tiusuang dan juga lagu takhian pingping khua belas yang akan digunakan ketika pementasan tari piring.
Taripiring dan tari galombang diiringi musik. a. gamelan b. talempong c. tifa d. salimpat e. sampek . Latihan Soal Seni Budaya. Latihan Soal - SD/MI - SMP/MTs - SMA | Kategori : Seni Budaya ★ Ujian Semester 2 (UAS / UKK) Seni Budaya SMA Kelas 10. Tari piring dan tari galombang diiringi musik. a. gamelan b. talempong
Taripiring dan tari galombang diiringi musik. a. gamelan b. talempong c. tifa d. salimpat e. sampek . Ujian Semester 2 (UAS / UKK) Seni Budaya SMA Kelas 10
Site De Rencontre En France Sans Inscription. Latihan Soal Online - Latihan Soal SD - Latihan Soal SMP - Latihan Soal SMA Kategori Seni Budaya ★ Ujian Semester 2 UAS / UKK Seni Budaya SMA Kelas 10Tari piring dan tari galombang diiringi musik…. a. gamelan b. talempong c. tifa d. salimpat e. sampekPilih jawaban kamu A B C D E Latihan Soal SD Kelas 1Latihan Soal SD Kelas 2Latihan Soal SD Kelas 3Latihan Soal SD Kelas 4Latihan Soal SD Kelas 5Latihan Soal SD Kelas 6Latihan Soal SMP Kelas 7Latihan Soal SMP Kelas 8Latihan Soal SMP Kelas 9Latihan Soal SMA Kelas 10Latihan Soal SMA Kelas 11Latihan Soal SMA Kelas 12Preview soal lainnya Penilaian Harian Tema 3 - Seni Budaya SD Kelas 5Contoh iringan tari yang berasal dari tubuh manusia adalah …A. Tepuk tanganB. Suara gendangC. Iringan musikD. Suara gamelanCara Menggunakan Baca dan cermati soal baik-baik, lalu pilih salah satu jawaban yang kamu anggap benar dengan mengklik / tap pilihan yang tersedia. Materi Latihan Soal LainnyaLKS Sejarah Kebudayaan Islam SKI MI Kelas 5Ulangan Harian Tema 9 Subtema 1 SD Kelas 6Interaksi Manusia dan Lingkungannya - IPS SD Kelas 5PAT Bahasa Indonesia Tema 8 SD Kelas 4Bahasa Arab MA Kelas 11PAT Penjaskes PJOK SD Kelas 1Surat Al-Kafirun - PAI SD MI Kelas 6PAS Tema 1 SD Kelas 6PAI Bab 2 Iman Kepada Allah SD Kelas 4Ulangan PPKn SMP Kelas 8 report this adTentang Soal Online adalah website yang berisi tentang latihan soal mulai dari soal SD / MI Sederajat, SMP / MTs sederajat, SMA / MA Sederajat hingga umum. Website ini hadir dalam rangka ikut berpartisipasi dalam misi mencerdaskan manusia Indonesia.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang beribukotakan Denpasar. Bali merupakan pulau yang dikenal dengan sebutan pulau dewata, dan merupakan salah satu pulau yang surga wisata yang memiliki daya Tarik berwisata baik untuk wisatawan maupun wisata local karena daerahnya memiliki keindahan dan kebudayaan yang beragam. Masyarakat pulau ini sebagian besar memeluk agama hindu, tidak hanya keindahannya saja, bali juga memiliki keanekaragaman kesenian serta kebudayaan yang ada di Bali pun menarik untuk dikenal oleh di Bali, kesenian dan kebudayaan yang ada di Bali menjadikan Bali mempunyai daya Tarik kuat bagi para wisatawan yang datang ke daerah tersebut. Beberapa kesenian dan kebudayaan yang ada di bali salah satunya adalah Tari Kecak. Tari kecak adalah tari yang berasal dari pulau Bali yang diciptakan oleh Wayan Limbak dari Bedulu Gianyar yang merupakan seniman Bali dan orang Jerman Walter Spies pada tahun 1930. Tarian ini terinspirasi dari sebuah ritual yang ada didalam cerita Ramayana dengan latar belakang kisah Ramayana melawan Rahwana raksasa yang menculik Dewi Shinta istri dari Ramayana yang akhirnya berhasil diselamatkan Hanoman. Tari 'Kecak' berangkat dari ritual Sang Hyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada dalam kondisi tidak sadar ketika melakukan komunikasi dengan para dewa atau roh para leluhur. Ritual ini dilakukan untuk memanggil roh para leluhur dan berkomunikasi kepada Sang Hyang Widhi untuk menyampaikan harapan Kecak biasanya disebut sebagai tari "Cak" atau tari Api Fire Dance merupakan tari pertunjukan massal atau hiburan dan cenderung sebagai sendratari yaitu seni drama, karena seluruhnya menggambarkan seni peran yang tidak secara khusus digunakan dalam ritual agama seperti pemujaan, odalan atau upacara lainnya. Bentuk-bentuk sakral dalam tari Kecak ini biasanya ditujukan dalam hal kerauhan atau masolah yaitu kekebalan secara gaib sehingga tidak terbakar oleh api. Tarian tersebut merupakan satu dari sekian banyak tari tradisional khas Bali yang mampu menjadi daya tarik wisatawan domestik maupun asing yang datang ke Bali. Tari Kecak sendiri dapat disaksikan di area wisata Uluwatu pada setiap hari jam WITA. Tari Kecak biasanya menggunakan pola lantai lingkaran atau melingkar dan dibagian tengah, terdapat orang yang menari. tarian yang dipentaskan lebih dari 50 orang penari laki-laki atau perempuan yang duduk berbaris melingkar dengan irama tertentu dan sambil menyerukan "cak" serta mengangkat kedua tangannya. Di tampilkan di tempat yang eksotis seperti di pantai pada saat senja menuju malam hari, akan menambah kesan eksotis dalam penampilan, dan juga terlihat lebih enerjik pementasannya. Properti disesuaikan berdasarkan kebutuhan untuk mendukung cerita. Menggunakan kamen Poleng dan bertelanjang dada, penari cak menambah keperkasaan mereka dengan keringat yang mengucur pada seluruh badan dan ditembak dengan cahaya matahari sore. Umumnya pada tari Kecak tidak diiringi oleh alat musik apapun. Penari Kecak memanfaatkan olah vokal mereka menjadi sebuah nada dan ritme yang sangat unik. Mereka meneriakkan "cak" sesuai dengan pola cak yang sudah dibagi ke setiap penari. Tidak ada Batasan umur untuk bisa tergabung dalam penari Kecak. Pementasan dan pertunjukan tari tradisional Kecak dari Bali ini dapat dengan mudah dijumpai disaksikan di beberapa wilayah Bali yakni seperti Uluwatu, Garuda Wisnu Kencana, Ubud, dan Gianyar Bali. Selamat menyaksikan Lihat Seni Selengkapnya
Dalam konteks kegiatan tari Galombang, ada keterkaitan hubungan antara struktur tari, struktur musik iringan, dan fungsi tari di dalam masyarakat Minangkabau di Kota Medan. Hubungan itu berupa hubungan pertunjukan, yang memiliki bentuk dan siklusnya tersendiri dalam dimensi waktu dan ruang. Seperti diketahui bahwa tari dan musim disatukan dan dikomunikasikan oleh dimensi atau besaran pokok waktu dan ruang. Untuk dimensi waktu, meter musik akan bertemu dengan siklus tari, yang terdiri dari empat jenis ragam yaitu 4 ketukan dasar untuk ragam sambah; 8 ketukan dasar untuk ragam lapiah jarimih; 8 ketukan dasar untuk ragam simpiah dan 4 ketukan dasar untuk galatiak. Jadi keempat ragam tari membutuhkan 24 ketukan dasar. Di sisi lain, musik iringannya terutama bagian ritem yang dibawaan oleh talempong pacik, tasa, dan gandang tambua memang menghasilkan meter dua. Berarti membutuhkan 12 birama untuk mengiringi satu siklus tarian ini, yang secara ostinato terus diulang-ulang sesuai dengan konteks dan fungsinya dalam upacara adat perkawinan Minangkabau. Kalau kita lihat dan kaitkan dengan melodi yang dihasilkan pupuik sarunai, maka satu siklusnya memerlukan ketukan dasar 32. Atau kalau dalam meter empat terdiri dari 8 birama. Jadi antara tari, dengan musik pembawa ritem dan Siklus tari dalam satu bentuk yang terdiri dari empat ragam memerlukan 24 ketukan dasar. Siklus musik pembawa ritem sesuai kebutuhan siklus tari dalam birama 2/4 atau meter 2. Siklus musik pebawa melodi dalam satu bentuk melodi yang diulang-ulang membutuhkan ketukan dasar 32. Sedangkan untuk dimensi ruang disini, bukan mengarah pada halnya “kamar”, namun lebih mengarah pada suatu penggambaran terhadap identitas. Hal ini dilihat mulai dari susunan, gerak-gerakan sampai kepada pengenaan kostum yang terbentuk dari tari Galombang menggambarkan identitas masyarakat Minangkabau, bahkan kepada kegunaan dan fungsi pada tari Galombang ini seperti yang di jelaskan di bagian sebelumnya. BAB V PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan pada uraian yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, penulis menyimpulkan dari pembahasan dari hasil penelitian yang penulis lakukan. Keberadaan tari Galombang telah dikenal di Kota Medan yang dibawa oleh masyarakat Minangkabau yang melakukan perantauan dengan berbagai alasan. Dilestarikan melalui salah satu sanggar Tigo Sapilin di Medan, Sumatera Utara. Tari Galombang yang dipertunjukkan oleh sanggar Tigo Sapilin tidak jauh berbeda dengan yang ada di daerah asal mereka, Sumatera Barat, yang gerakan tariannya diambil dari gerakan magek ataupun bungo silek,yaitu gerakan variatif yang bersumber dari gerakan pencak silat Minangkabau yang pada dasarnya bersifat cekatan dan tegas yang ditarikan oleh 3 orang laki-laki dan 6 penari perempuan. Tari ini diiringi oleh musik Galombang yang menggunakan instrumen musik berupa satu buah tasa, dua buah gandang tambua, satu buah puput serunai, dan satu set talempong pacik. Tari Galombang merupakan salah satu jenis tarian masyarakat Minangkabau yang sudah mereka praktikkan di dalam kegiatan kehidupan sehari-hari dan berkembang dan terintegrasi menjadi identitas mereka. Bahkan hingga dewasa ini pesta perkawinan di kalangan anggota masyarakat Minangkabau, baik di kampung halaman mereka di Sumatera Barat, maupun di kota Medan. Kedudukan tari Galombang ini dalam setiap upacara mengalami pergeseran dari zaman dulu, yang dimana saat dulu tari ini penting digunakan dalam upacara perkawinan masyarakat Minangkabau, namun dalam penerapan di masa sekarang adalah sebagai salah satu pelengkap atau bisa dikatakan penyemaraknya upacara perkawinan. Jika tari ini tidak ditampilkan, upacara akan tetap terlaksana. Namun terasa kurang lengkap jika kesenian tradisional ini tidak ditampilkan. Berfungsi sebagai tanda penyambutan marapulai beserta keluarga dan juga sebagai tanda sukacita dari pihak anak daro. Konsep tari Galombang kurang lebih sama di seluruh satuan sosial Minangkabau, yakni pola-pola gerakan yang diambil dari gerakan bungo silek. Tiap kelompok penari di dalam anggota masyarakat Minangkabau menciptakan berbeda-beda ragam gerakan dalam strukturnya, namun dalam pola gerakannya semua sama, berdasarkan pola gerakan yang sudah tradisi adat dari dulunya. Dalam penyajiannya, memerlukan keahlian agar dapat bergerak, gerakan-gerakan kaki dan tangan saling di gerakkan yang begitu di perhatikan. Gerakan kaki dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah, sedangkan gerakan tangan dilakukan dengan gerakan-gerakan kasar yang identik dengan kekhasan masyarakat Minangkabau. Dimana semua makna yang terkandung di dalam gerakan-gerakan tersebut mempunyai fungsi bagi masyarakat Minangkabau. terhadap antar penari. Tiap peralihan atau perubahan gerakan yang ada sesuai dengan ketukan tempo musik pengiringnya. Persiapan kostum dan tata rias yang digunakan sangat diperlukan oleh penari dan pemusik untuk mendukung pertunjukan yang mereka sajikan di lapangan. Dimana penggunaan kostum dalam pertunjukan memiliki symbol- simbol tersendiri. Lewat pertunjukan tari Galombang ini mengekspresikan perasaan dan semua pengalaman lingkungan yang subjektif. Eksistensi iringan musik dalam tari Galombang ini sangatlah penting, karena dalam konteksnya tari ini mengikuti musik. Dimana sebagai pembentuk suasana dan juga untuk memperjelas tekanan-tekanan gerak, sehingga tari dapat dinikmati secara keseluruhan dengan baik. Dimana Siklus tari dalam satu bentuk yang terdiri dari empat ragam memerlukan 24 ketukkan dasar. Siklus musik pembawa ritem sesuai kebutuhan siklus tari dalam birama 2/4 atau meter 2. Siklus musik pebawa melodi dalam satu bentuk melodi yang diulang-ulang membutuhkan ketukan dasar 32. Dilihat dari segi fungsi tari Galombang ini memiliki banyak fungsi, yaitu sebagai suatu sumbangan bahagian aktivitas kepada keseluruhan aktivas di dalam sistem sosial masyarakatnya, sebagai sarana untuk perkawinan atau pernikahan, sebagai refleksi organisasi sosial Minangkabau, begitu juga sebagai ekspresi ritual keagamaan, hiburan, estetik, dan ekonomi. Dalam konteks kegiatan tari Galombang, ada keterkaitan hubungan antara Minangkabau di Kota Medan. Hubungan itu berupa hubungan pertunjukan, yang memiliki bentuk dan siklusnya tersendiri dalam dimensi waktu dan ruang. Saran Tari Galombang sebagai salah satu kesenian tradisional masyarakat Minangkabau yang kini telah berkembang di luar daerah asalnya, khususnya kota Medan. Kesenian ini berbaur dengan kesenian yang ada di daerah tempat perantauan, yang tentu saja akan mendapat pengaruh dari kesenian yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, sebagai upaya pelestariannya diperlukan wadah seperti sanggar Tigo Sapilin yang memiliki kesadaran untuk menjaga kesenian tradisional ini. Para generasi muda diharapkan untuk berperan aktif dalam menjaga kelangsungan kesenian daerahnya. Ini dapat dilakukan dengan melakukan sosialisasi melalui pertunjukan kesenian tradisi yang sering diadakan untuk membiasakan mereka mengenalnya. Rasa kesadaran dan cinta akan kesenian tradisional merupakan kunci permasalahannya. Penulis juga menyadari bahwa penelitian yang baru merupakan tahap awal ini masih banyak memiliki kekurangan dan perlu mendapatkan penyempurnaan. Penelitian ini hanyalah sebahagian kecil permasalahan yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu penulis menyarankan dan mengharapkan kepada siapa saja yang berminat untuk melanjutkan penelitian ini untuk lebih mendalam lagi, dokumentasi data mengenai kebudayaan musical yang berkaitan dengan Minangkabau. Akhir kata penulis mengharapkan semoga tulisan ini dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap apresiasi budaya dan pengetahuan terhadap ilmu DAFTAR PUSTAKA Blacking, John. 1984. “Dance as Cultural System and Human Capability An Anthropological Perspective.” dalam buku Dance, A Multicultural Perspective. Report of the Third Study of Dance Conference, ed. J. Adshead, 4-21 Guildford. University of Surrey. 1985. “Movement, Dance, Music, and Venda girl’s Laitation” dalam buku Society and Dance. Cambridge University Press. Djelantik. 1990. Estetika, Sebuah Pengantar. Bandung Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara. 2004. “Studia Kultura” dalam buku Jurnal Ilmiah Ilmu Budaya. Gunawan, Hery. 2005. Analisi Musik Galombang Pada Upacara Adat Perkawinan Masyarakat Minangkabau di Kota Medan, Skripsi Etnomusikologi USU. Hutagalung, Flora. 2009. Analisis Pertunjukan Tari Piring pada Upacara Perkawinan Adat Masyarakat Minangkabau di Kota Medan, Skripsi Etnomusikologi USU. Lorimer, Lawrence T. et al., eds.. 1991. Encyclopedia of Knowledge Volume 8. Danbury, Connecticut Grolier Incorporated. Koentjaraningrat. 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta PT. Rineka Cipta. Maleong. 1908. Metode Penelitian. Jakarta Gramedia. Malm, Wiliam P., 1977. Music Cultures of Pacific, Near East, and Asia. Englewood Cliffs, New Jersey Prentice Hall. Merriam, Alan P. 1964. The Anthropology of Music. Chicago North Western University Press. Navis, 1986. Alam Terkembang Jadi Guru Adat Kebudayaan Minangkabau. Jakarta Nettl, Bruno. 1964. Theory and Method in Etnomusicology. New York The Pree Press. Sachs, Curt. 1963. World History of the Dance. California University of California. 1993. World History of The Dance. New York The Norton Library. Siagian, Rizaldi. 1995. “Etnomusikologi” Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Surakarta Yayasan Bentang Budaya. Sinar, Luckman. 1996. Pengantar Etnomusikologi dan Tarian malayu. Medan Perwira. Soedarsono. 1978. Komposisi Tari. Yoyakarta ASTI Soekanto, Soerjono. 1993. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. Jakarta Raja Grafindo Persada. Wimbrayardi. 1989. Analisis Ritem Musik Adok Pengiring Tari Bentan. Medan, Skripsi Sarjana Sastra USU. Internet
Alat musik yang digunakan untuk mengiringi Tari Piring, memadai dengan pukulan Rebana dan Gong sahaja. Pukulan Gong amat penting sekali kerana ia akan menjadi panduan kepada penari untuk menentukan langkah dan gerak Tari Piringnya. Pada kebiasaannya, kumpulan Rebana yang mengiringi dan mengarak pasangan pengantin diberi tanggungjawab untuk mengiringi persembahan Tari Piring. Namun, dalam keadaan tertentu Tari Piring boleh juga diiringi oleh alat musik lain seperti Talempong dan Gendang. Tari Piring diiringi oleh musik Penayuhan. Contoh lagu pengiringnya yaitu Takhian sai tiusung, Takhi pikhing khua belas, Seni budaya lappung, Dang sappai haga tekas jangan sampai ditinggalkan Saluang adalah alat musik tradisional khas Minangkabau, Sumatra Barat. Yang mana alat musik tiup ini terbuat dari bambu tipis atau talang Schizostachyum brachycladum Kurz. Orang Minangkabau percaya bahwa bahan yang paling bagus untuk dibuat saluang berasal dari talang untuk jemuran kain atau talang yang ditemukan hanyut di sungai. Alat ini termasuk dari golongan alat musik suling, tapi lebih sederhana pembuatannya, cukup dengan melubangi talang dengan empat lubang. Panjang saluang kira-kira 40-60 cm, dengan diameter 3-4 cm. Adapun kegunaan lain dari talang adalah wadah untuk membuat lamang lemang, salah satu makanan tradisional Minangkabau. Pemain saluang legendaris bernama Idris Sutan Sati dengan penyanyinya Syamsimar. Keutamaan para pemain saluang ini adalah dapat memainkan saluang dengan meniup dan menarik napas bersamaan, sehingga peniup saluang dapat memainkan alat musik itu dari awal dari akhir lagu tanpa putus. Cara pernapasan ini dikembangkan dengan latihan yang terus menerus. Teknik ini dinamakan juga sebagai teknik manyisiahan angok menyisihkan napas. Tiap nagari di Minangkabau mengembangkan cara meniup saluang, sehingga masing-masing nagari memilhki ciri khas tersendiri. Contoh dari ciri khas itu adalah Singgalang, Pariaman, Solok Salayo, Koto Tuo, Suayan dan Pauah. Ciri khas Singgalang dianggap cukup sulit dimainkan oleh pemula, dan biasanya nada Singgalang ini dimainkan pada awal lagu. Sedangkan, ciri khas yang paling sedih bunyinya adalah Ratok Solok dari daerah Solok. Dahulu, kabarnya pemain saluang ini memiliki mantera tersendiri yang berguna untuk menghipnotis penontonnya. Mantera itu dinamakan Pitunang Nabi Daud. Isi dari mantera itu kira-kira Aku malapehan pituang Nabi Daud, buruang tabang tatagun-tagun, aia mailia tahanti-hanti, takajuik bidodari di dalam sarugo mandanga bunyi saluang ambo, kununlah anak sidang manusia...... dan seterusnya Talempong adalah sebuah alat musik pukul tradisional khas suku Minangkabau. Bentuknya hampir sama dengan instrumen bonang dalam perangkat gamelan. Talempong dapat terbuat dari kuningan, namun ada pula yang terbuat dari kayu dan batu. Saat ini talempong dari jenis kuningan lebih banyak digunakan. Talempong berbentuk lingkaran dengan dialeter 15 sampai 17,5 sentimeter, pada bagian bawahnya berlubang sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagai tempat untuk dipukul. Talempong memiliki nada yang berbeda-beda. Bunyinya dihasilkan dari sepasang kayu yang dipukulkan pada permukaannya. Talempong biasanya digunakan untuk mengiringi tarian pertunjukan atau penyambutan, seperti Tari Piring yang khas, Tari Pasambahan, dan Tari Gelombang. Talempong juga digunakan untuk melantunkan musik menyambut tamu istimewa. Talempong ini memainkanya butuh kejelian dimulai dengan tangga nada do dan diakhiri dengan si. Talempong diiringi oleh akord yang cara memainkanya serupa dengan memainkan piano. Rabab adalah alat musik gesek tradisional khas Minangkabau yang terbuat dari tempurung kelapa. Dengan rabab ini dapat tersalurkan bakat musik seseorang. Biasanya dalam rabab ini dikisahkan berbagai cerita nagari atau dikenal dengan istilah Kaba. Kesenian Rabab sebagai salah satu kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang dalam kebudayaan masyarakat Minangkabau, tersebar dibeberapa daerah dengan wilayah dan komunitas masyarakat yang memiliki jenis dan spesifikasi tertentu. Rabab Darek, Rabab Piaman dan Rabab Pasisie merupakan salah satu kesenian tradisional yang cukup berkembang dengan wilayah dan di dukung oleh masyarakat setempat. Rabab Darek tumbuh dan berkembang di daerah darek Minangkabau meliputi Luhak nan Tigo sedangkan Rabab Piaman berkembang di daerah pesisir barat Minangkabau, yang meliputi daerah tepian pantai pesisir. Pesisir Selatan sebagai wilayah kebudayaan Minangkabau yang menurut geohistorisnya di klasifikasikan kepada daerah Rantau Pasisia yang cakupan wilayah tersebut sangat luas dan didaerah inilah berkembangnya kesenian Rabab Pasisia. Rabab Pasisia ditinjau dari aspek fisik pertunjukanya memiliki spesifikasi tersendiri dan ciri khas yang bebeda dengan rabab lainya. Terutama dari segi bentuk alat mirip, dengan biola secara historis berasal dari pengaruh budaya portugis yang datang ke Indonesia pada abad ke XVI melalui pantai barat Sumatra. Dalam rabab memiliki komposisi tersendiri tergantung kepada lagu yang diinginkan dengan memainkan lagu yang bersifat kaba sebagai materi pokok. Lagu yang lahir tesebut merupajan ide gagasan yang berasal dari komunitas masyarakat yang berbeda namun ada dalam daerah yang sama.
tari piring dan tari galombang diiringi musik